Pasca.umsida.ac.id – Yudisium I Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) tahun 2026 menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk tidak berhenti pada capaian akademik.
Dalam kegiatan yang diikuti 82 peserta, terdiri atas 16 lulusan Magister Manajemen dan 66 lulusan Magister Pendidikan Islam, Rektor Umsida Dr Hidayatulloh MSi menegaskan bahwa alumni pascasarjana memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia.
Kegiatan yudisium ini juga menjadi bagian dari babak baru Pascasarjana Umsida. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa sejak 1 Juni 2026, program-program magister di Umsida telah dihimpun dalam satu payung kelembagaan Pascasarjana. Sebelumnya, beberapa program studi S2 berada di bawah fakultas masing-masing, seperti MPI, MM, Pendidikan Dasar, Ilmu Komunikasi, dan MIST.
Pascasarjana Menjadi Rumah Konsolidasi Keilmuan
Rektor Umsida menjelaskan bahwa keberadaan Pascasarjana sebagai payung baru program magister perlu dimaknai sebagai ruang konsolidasi akademik. Menurutnya, penggabungan program-program S2 dalam satu struktur Pascasarjana bukan sekadar perubahan administratif, tetapi langkah strategis untuk memperkuat tata kelola, kolaborasi lintas keilmuan, dan kontribusi akademik Umsida.
“Program Pascasarjana harus segera melakukan konsolidasi dengan semua program studi yang ada,” ujar Dr Hidayatulloh dalam sambutannya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran para pimpinan, dosen, mitra, serta peserta yudisium yang menjadi bagian dari momentum awal penguatan Pascasarjana UMSIDA. Bagi Rektor, lulusan magister tidak cukup hanya membawa gelar akademik, tetapi juga harus membawa kapasitas berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan komitmen untuk memberi dampak nyata di masyarakat.
Umsida Terus Perkuat Reputasi Akademik Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga memaparkan sejumlah capaian Umsida di tingkat nasional. Ia menegaskan bahwa Umsida terus menunjukkan perkembangan kelembagaan yang signifikan. Pada 2025, Umsida naik ke klaster mandiri dalam klasterisasi Kementerian Diktisaintek dan berada pada peringkat 6 pemeringkatan SINTA Score untuk PTN dan PTS se-Indonesia. UMSIDA juga meraih penghargaan Gold Winner di bidang SINTA Score dan pengabdian kepada masyarakat. (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)
Capaian tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari kerja kolektif dosen dan mahasiswa dalam memperkuat riset, publikasi, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa prestasi institusi harus menjadi dorongan bagi lulusan untuk terus bergerak, bukan sekadar menjadi kebanggaan simbolik.
“Siapa pun yang bersungguh-sungguh akan diberikan jalan kemudahan oleh Allah. Dan siapa pun yang bersungguh-sungguh, kesungguhannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri,” pesannya.
Rektor juga menyampaikan bahwa mahasiswa UMSIDA telah banyak membuktikan diri di berbagai kompetisi nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas perguruan tinggi tidak semata ditentukan oleh status negeri atau swasta, tetapi oleh kesungguhan, kerja akademik, dan prestasi nyata yang dihasilkan.
Alumni Ditantang Hadir di Masalah Riil Masyarakat
Bagian terpenting dari sambutan Rektor adalah pesan kepada para alumni agar tidak berhenti pada ruang diskusi akademik. Ia mengaitkan peran lulusan pascasarjana dengan tantangan besar Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung sumber daya manusia yang bermutu.
Rektor menyinggung sejumlah indikator pembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Berdasarkan laporan UNDP 2025, Indonesia berada pada peringkat 113 dari 193 negara dalam Human Development Index dengan skor 0,728. (UNDP) Di bidang pendidikan, hasil PISA 2022 menunjukkan siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. (OECD)
Tantangan lain juga tampak pada sektor ekonomi dan kesehatan. BPS mencatat angka kemiskinan Indonesia pada September 2025 sebesar 8,25 persen atau 23,36 juta orang. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024, namun angka ini masih membutuhkan kerja serius lintas sektor. (Indonesian Health Ministry)
Karena itu, Rektor meminta alumni Pascasarjana UMSIDA membawa ilmu yang diperoleh selama kuliah ke medan persoalan nyata. Lulusan bidang pendidikan, seperti guru dan kepala sekolah, diharapkan berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sementara lulusan Magister Manajemen diharapkan mampu ikut menggerakkan ekonomi masyarakat dan berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan.
“Saya berharap suasana diskusi yang segar selama perkuliahan itu dilanjutkan dengan masalah real di lapangan. Tugas Anda adalah mencari dan menemukan solusi sesuai bidang masing-masing,” tegasnya.
Yudisium I Pascasarjana UMSIDA 2026 akhirnya bukan hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga panggilan kontribusi. Para lulusan diharapkan mampu menjadi bagian dari gerakan akademik yang membawa ilmu, integritas, dan kebermanfaatan untuk masyarakat luas.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi














