Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Pasca.umsida.ac.id — Kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof Dr Abdul Mu’ti MEd menambah semarak Kuliah Tamu dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga: Prof Hana Tegaskan Komitmen Pascasarjana Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Setelah mengikuti agenda peringatan Hari Anak Nasional di lantai 5 Kampus 1 Umsida, Prof Abdul Mu’ti menyempatkan diri mendatangi Aula Mas Mansyur lantai 7. Ia kemudian memberikan sambutan dan motivasi kepada para kepala sekolah serta guru peserta PKB dari Kecamatan Waru.

Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Program Studi Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana Umsida dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Waru. Tema yang diangkat ialah “Transformasi Pembelajaran Berbasis Literasi dan Numerasi di Era Digital.”

Abdul Mu’ti tercatat menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kehadirannya secara langsung menjadi kesempatan berharga bagi peserta untuk memperoleh penguatan mengenai kompetensi guru dan prinsip pembelajaran mendalam.

Isu Guru Jangan Hanya Berhenti pada Gaji

Mengawali sambutannya, Prof Abdul Mu’ti memberikan apresiasi kepada para guru yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengikuti pelatihan.

Menurutnya, kemauan mengikuti kegiatan pengembangan keprofesian menunjukkan adanya komitmen guru untuk terus meningkatkan kualitas diri.

“Guru hebat adalah guru yang mau keluar biaya untuk pelatihan. Komitmennya bagus sekali karena guru memiliki empat kompetensi,” ujarnya.

Prof Abdul Mu’ti mengingatkan agar pembicaraan mengenai profesi guru tidak hanya berpusat pada kesejahteraan. Peningkatan kompetensi juga perlu mendapatkan perhatian serius karena kualitas pendidikan berkaitan langsung dengan kapasitas pendidiknya.

“Isunya jangan hanya soal gaji, tetapi juga harus soal kompetensi,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan berarti kesejahteraan guru tidak penting. Namun, peningkatan penghasilan perlu berjalan beriringan dengan kemauan memperbarui pengetahuan, pendekatan mengajar, dan kemampuan memahami perubahan karakter murid.

Kegiatan pelatihan seperti PKB dibutuhkan agar guru tidak selalu mengajar menggunakan pola yang sama dengan cara mereka dididik pada masa lalu. Perubahan sosial dan teknologi membuat guru harus terus menyesuaikan metode pembelajarannya.

Pembelajaran Mendalam Dimulai dengan Memuliakan Murid

Prof Abdul Mu’ti kemudian mengajak peserta kembali mengingat alasan awal memilih profesi sebagai guru. Menurutnya, pendidik perlu menjalankan tugas dengan mencintai ilmu sekaligus mencintai murid.

Ia menilai setiap murid yang hadir di ruang kelas harus diterima dengan latar belakang, kemampuan, dan karakter yang beragam.

“Kalau kita bekerja karena cinta ilmu dan cinta murid, maka setiap anak yang datang merupakan jalan kebaikan bagi kita,” tuturnya.

Prinsip tersebut juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran mendalam atau deep learning. Prof Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pembelajaran tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi harus dibangun melalui hubungan yang memuliakan murid.

“Kunci pembelajaran mendalam adalah memuliakan murid. Kita menerima mereka apa adanya, mendampingi dengan penuh cinta, dan membantu mereka tumbuh menjadi anak-anak yang baik,” jelasnya.

Dalam pendekatan pembelajaran mendalam, murid ditempatkan sebagai subjek yang terlibat aktif dalam proses belajar. Guru menghargai potensi dan martabat murid, membangun keterlibatan, serta membantu mereka memahami alasan dan cara mempelajari sesuatu. Prinsip memuliakan, berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan juga menjadi bagian dari arah pembelajaran mendalam Kemendikdasmen.

Karena itu, guru perlu menghindari pendekatan yang membuat murid merasa dipermalukan, ditolak, atau tidak diterima. Respons pendidik terhadap pertanyaan dan perilaku murid harus tetap mempertimbangkan kondisi psikologis serta latar belakang mereka.

Guru Sejati Juga Seorang Pembelajar

Selain menjadi fasilitator, Prof Abdul Mu’ti meminta guru menempatkan dirinya sebagai pembelajar. Guru tidak seharusnya merasa telah selesai belajar hanya karena sudah menguasai materi atau memiliki pengalaman mengajar selama bertahun-tahun.

“Menjadi guru sejati adalah juga menjadi murid. Teacher itu sejatinya adalah learner,” ungkapnya.

Menurutnya, guru perlu belajar bersama murid, mendampingi mereka dari depan, tengah, maupun belakang, serta membangun keterlibatan dalam setiap proses pembelajaran.

Prof Abdul Mu’ti juga menyinggung persoalan murid yang menjalani pembelajaran seperti mesin. Mereka hanya mengikuti perintah guru atau orang tua tanpa memahami alasan harus mempelajari materi tertentu dan bagaimana cara mempelajarinya.

Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi karena kegagalan belajar tidak selalu disebabkan rendahnya kecerdasan atau terbatasnya akses pendidikan. Pembelajaran dapat kehilangan makna ketika murid tidak memperoleh ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

“Dalam pembelajaran, sering kali murid tidak menjadi dirinya sendiri. Karena itu, kita harus selalu berubah dan menjadi pembelajar meskipun profesi kita adalah guru,” katanya.

Kegiatan PKB dinilainya menjadi salah satu sarana bagi guru untuk memperbarui pengetahuan dan meninggalkan praktik pendidikan lama yang sudah tidak sesuai. Guru perlu terus belajar agar mampu menghadirkan pembelajaran yang manusiawi, relevan, dan dekat dengan kebutuhan murid.

Baca Juga: Nadjih Ihsan Ajak Tendik Umsida Hidupkan Tauhid dalam Pekerjaan

Menutup sambutannya, Prof Abdul Mu’ti mengajak seluruh peserta membangun pendidikan dengan dasar kecintaan kepada ilmu, murid, dan sesama.

“Dengan cinta kepada murid, cinta ilmu, dan cinta sesama, kita bangun generasi Indonesia yang hebat,” pungkasnya.

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi

Bertita Terkini

Kaprodi S2 Pendidikan Dasar Umsida Perkuat Kompetensi Guru melalui Digitalisasi Pembelajaran
September 22, 2026By
Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Prof Hana: Pascasarjana Umsida Tak Hanya Kuatkan Akademik, tetapi Juga Kepercayaan Diri Mahasiswa
September 14, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
15 Mahasiswa S2 MPI Umsida Raih Beasiswa LPPD Jawa Timur 2026, Perkuat Kader Pendidikan Islam
September 1, 2026By

Prestasi

Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Paper Terbaik di University Malaya
June 16, 2026By
Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Juara 1 Creativity Competition di Universiti Malaya
June 14, 2026By

Kegiatan

Kaprodi S2 Pendidikan Dasar Umsida Perkuat Kompetensi Guru melalui Digitalisasi Pembelajaran
September 22, 2026By
Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
Magister Ilmu Komunikasi UMSIDA dan UMJ Jalin Kerja Sama Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi
August 27, 2026By
Lolos Tahap I, Peserta Beasiswa LPPD Jatim Jalani Uji Kitab di Umsida
August 10, 2026By