Dr Izza Ajak Lulusan Magister Jaga Akal, Amal, dan Akhlak

Pasca.umsida.ac.id – Yudisium I Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menjadi momentum penting bagi para lulusan magister untuk meneguhkan peran keilmuan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Mahasiswa MM Umsida Bedah Kasus Perselisihan Hubungan Industrial

Kegiatan yang digelar pada Ahad, 21 Juni 2026 ini diikuti oleh 82 peserta yudisium, terdiri atas 66 lulusan Magister Manajemen Pendidikan Islam dan 16 lulusan Magister Manajemen.

Dalam kegiatan tersebut, Kaprodi Magister Inovasi Sistem dan Teknologi (MIST) Umsida, Dr Ir Izza Anshory ST MT, menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Akal, Amal, dan Akhlak yang Berdampak.” Orasi ini menjadi penguatan bagi para lulusan agar tidak memandang kelulusan hanya sebagai pencapaian administratif atau penambahan gelar akademik.

“Apakah setelah selesai studi, selesai pula apa yang selama ini dilakukan? Maka setelah selesai satu urusan, kerjakanlah urusan yang lain,” ujarnya saat mengawali orasi.

Menurutnya, lulusan magister harus memiliki kesadaran bahwa ilmu yang diperoleh selama studi perlu dilanjutkan dalam bentuk pembelajaran berkelanjutan, pengabdian, dan kontribusi nyata. Gelar magister bukan akhir perjalanan, melainkan pintu masuk menuju tanggung jawab sosial yang lebih besar.

Akal Harus Terus Dilatih dengan Ilmu

Dr Izza menjelaskan bahwa unsur pertama yang harus dijaga oleh lulusan magister adalah akal. Ia menegaskan, setelah lulus, seseorang tidak boleh berhenti belajar. Akal harus terus diasah melalui ilmu, pengalaman, iman, dan kebijaksanaan.

Ia mencontohkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan platform sejenis dapat berkembang karena terus dilatih dengan data. Namun, manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teknologi, yakni kemampuan mengambil hikmah, menimbang baik dan buruk, serta memahami kemanfaatan suatu pengetahuan.

“Kalau teknologi terus dilatih dengan data agar semakin cerdas, maka manusia harus terus dilatih dengan ilmu, belajar, iman, pengalaman, dan kebijaksanaan,” jelasnya.

Dalam konteks lulusan Pascasarjana Umsida, kemampuan membaca realitas sosial menjadi bagian penting dari penggunaan akal. Lulusan magister, kata dia, perlu mampu membaca data, memahami persoalan masyarakat, serta tidak mudah menerima informasi secara mentah. Di sinilah akal berperan untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang bermanfaat, dan mana yang membawa mudarat.

Ilmu Harus Menjadi Amal yang Bermanfaat

Unsur kedua yang ditekankan Dr Izza adalah amal. Menurutnya, ilmu yang hanya berhenti di kepala tidak akan memberikan dampak luas apabila tidak diamalkan. Karena itu, lulusan magister harus mengimplementasikan ilmu sesuai bidang masing-masing, baik sebagai guru, kepala sekolah, pengelola lembaga, praktisi, maupun pemimpin organisasi.

Ia menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh selama studi harus dibagikan kembali kepada masyarakat. Bagi lulusan Magister Manajemen Pendidikan Islam, misalnya, ilmu dapat diamalkan melalui penguatan lembaga pendidikan, pembaruan metode pembelajaran, serta pengelolaan sekolah yang lebih baik. Sementara bagi lulusan Magister Manajemen, ilmu dapat digunakan untuk memperbaiki tata kelola organisasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Dalam orasinya, Dr Izza juga mengenalkan pendekatan inovasi SCAMPER sebagai cara berpikir praktis dalam menerapkan ilmu. Pendekatan itu meliputi substitute atau mengganti, combine atau menggabungkan, adapt atau menyesuaikan, modify atau memodifikasi, put to another use atau menggunakan untuk manfaat lain, eliminate atau menghilangkan yang tidak efisien, dan rearrange atau menyusun ulang.

Menurutnya, metode tersebut dapat digunakan oleh lulusan magister untuk membaca masalah dan mencari solusi baru di tempat kerja maupun lingkungan masyarakat. Inovasi tidak harus selalu dimulai dari hal besar, tetapi dapat lahir dari kemampuan memperbaiki, menggabungkan, dan menyesuaikan hal-hal yang sudah ada.

Akhlak Menjadi Pembeda Lulusan Umsida

Unsur ketiga yang menjadi penekanan utama adalah akhlak. Dr Izza mengingatkan bahwa ilmu dan amal tanpa akhlak dapat menjadi persoalan serius. Kemajuan teknologi, kecerdasan, dan kemampuan manajerial tidak akan membawa kebaikan apabila tidak disertai nilai moral.

“Ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan. Amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Tetapi ilmu dan amal tanpa akhlak bisa menjadi bencana,” tegasnya.

Ia menilai, pembeda lulusan Pascasarjana Umsida terletak pada penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang berkemajuan. Karena itu, lulusan magister tidak cukup hanya cerdas secara akademik dan terampil secara profesional, tetapi juga harus memiliki orientasi moral dalam setiap keputusan dan tindakan.

Dr Izza juga menyampaikan kisah enam orang buta yang diminta mengenali seekor gajah. Masing-masing orang memberi kesimpulan berbeda karena hanya menyentuh satu bagian tubuh gajah. Kisah tersebut ia gunakan untuk mengingatkan para lulusan agar tidak melihat persoalan hanya dari satu sisi.

Menurutnya, lulusan magister perlu memiliki cara pandang multidisipliner. Setiap persoalan harus dibaca sebagai sistem yang kompleks, saling terhubung, dan membutuhkan kolaborasi lintas bidang. Dengan cara pandang tersebut, lulusan Pascasarjana Umsida diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan berdampak.

Baca Juga:Yudisium I FPSI Umsida, 264 Mahasiswa Siap Jadi Lulusan Berdampak

Di akhir orasinya, Dr Izza mendoakan agar para lulusan memperoleh keberkahan ilmu dan kemudahan dalam mengamalkan pengetahuan yang telah diperoleh. Ia berharap lulusan Pascasarjana Umsida mampu menjadi pribadi yang memiliki akal yang sehat, amal yang bermanfaat, dan akhlak yang kuat.

“Lulusan magister Pascasarjana Umsida itu harus lengkap: ada akal, ada amal, dan ada akhlak,” pungkasnya.

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi

Bertita Terkini

Kaprodi S2 Pendidikan Dasar Umsida Perkuat Kompetensi Guru melalui Digitalisasi Pembelajaran
September 22, 2026By
Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Prof Hana: Pascasarjana Umsida Tak Hanya Kuatkan Akademik, tetapi Juga Kepercayaan Diri Mahasiswa
September 14, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
15 Mahasiswa S2 MPI Umsida Raih Beasiswa LPPD Jawa Timur 2026, Perkuat Kader Pendidikan Islam
September 1, 2026By

Prestasi

Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Paper Terbaik di University Malaya
June 16, 2026By
Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Juara 1 Creativity Competition di Universiti Malaya
June 14, 2026By

Kegiatan

Kaprodi S2 Pendidikan Dasar Umsida Perkuat Kompetensi Guru melalui Digitalisasi Pembelajaran
September 22, 2026By
Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
Magister Ilmu Komunikasi UMSIDA dan UMJ Jalin Kerja Sama Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi
August 27, 2026By
Lolos Tahap I, Peserta Beasiswa LPPD Jatim Jalani Uji Kitab di Umsida
August 10, 2026By