Riset MIST Umsida Kembangkan Deteksi Deepfake Berbasis AI Berakurasi Tinggi

Pascasarjana.umsida.ac.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI) membuka peluang besar bagi lahirnya berbagai inovasi digital. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa video sintetis atau *deepfake* yang semakin realistis dan sulit dibedakan dari rekaman asli.

Baca Juga: Dosen MM Umsida Dorong Kampus Jadi Inkubator Kompetensi

Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Perancangan Aplikasi Berbasis Web untuk Membedakan Video yang Dihasilkan oleh AI dengan Video Asli Menggunakan Metode Transformer”.

Penelitian ini dilakukan oleh Eka Nugraha Saktifany Wicaksana, Rohman Dijaya, Irwan Alnarus Kautsar, dan Nuril Lutvi Azizah dari bidang Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Riset tersebut relevan dengan pengembangan keilmuan Magister Inovasi Sistem dan Teknologi (MIST) Pascasarjana Umsida, khususnya dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memperkuat keamanan dan integritas informasi digital.

Deepfake Mengancam Integritas Informasi Digital

Teknologi deepfake memungkinkan seseorang membuat atau memanipulasi video dengan menampilkan wajah, ekspresi, suara, dan gerakan yang menyerupai kondisi sebenarnya. Apabila disalahgunakan, teknologi tersebut berpotensi menjadi sarana penyebaran misinformasi, penipuan digital, pelanggaran privasi, hingga ancaman keamanan.

Kemampuan AI dalam menghasilkan konten visual yang semakin realistis membuat proses verifikasi video menjadi lebih kompleks. Tantangan tersebut tidak hanya dihadapi masyarakat umum, tetapi juga jurnalis, lembaga pendidikan, pemerintah, serta pelaku industri digital.

Pengamatan manusia secara visual dinilai tidak lagi cukup untuk mengenali video yang telah dimanipulasi. Artefak atau jejak manipulasi pada video sering kali berada pada detail yang sangat kecil dan sulit terlihat secara langsung.

Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan solusi berupa aplikasi berbasis web yang dapat membantu pengguna membedakan video asli dengan video hasil manipulasi AI. Sistem komputasi digunakan untuk membaca pola dan karakteristik visual yang tidak mudah dikenali oleh mata manusia.

Kombinasikan ConvNeXt dan Vision Transformer

Model deteksi deepfake dalam penelitian ini menggunakan arsitektur hybrid yang mengombinasikan ConvNeXt dan Vision Transformer atau ViT.

ConvNeXt dimanfaatkan untuk mengekstraksi fitur lokal pada citra wajah, seperti tekstur, tepian, dan detail visual tertentu. Sementara itu, Vision Transformer digunakan untuk menangkap konteks visual secara global melalui mekanisme *self-attention*.

Kombinasi kedua arsitektur tersebut memungkinkan sistem mengenali artefak manipulasi secara lebih menyeluruh. Model tidak hanya menganalisis detail kecil pada wajah, tetapi juga hubungan antarelemen visual dalam satu frame video.

Sistem tersebut turut diperkuat menggunakan dua jalur rekonstruksi, yaitu *Autoencoder* (AE) dan *Variational Autoencoder* (VAE). Keduanya digunakan untuk mempelajari representasi citra wajah asli dan hasil manipulasi secara lebih mendalam.

Melalui pendekatan tersebut, model dapat mengenali perbedaan distribusi data antara video asli dan video *deepfake*. Hasil keluaran dari kedua jalur kemudian digabungkan melalui metode *ensemble* untuk meningkatkan stabilitas dan ketepatan klasifikasi.

Dataset penelitian diperoleh dari sejumlah sumber publik, yaitu Deepfake Detection Challenge atau DFDC, FaceForensics++, DeepfakeTIMIT, dan Celeb-DF v2.

Video dalam dataset diekstraksi menjadi frame gambar dengan fokus pada area wajah. Proses tersebut menghasilkan sekitar satu juta citra wajah yang selanjutnya dibagi menjadi data pelatihan, validasi, dan pengujian.

Deteksi Deepfake Capai Rata-Rata 96,125 Persen

Hasil pengujian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan memiliki performa tinggi dalam mendeteksi video deepfake.

Model ensemble berbasis AE dan VAE menghasilkan nilai F1-Score sebesar 99,1 persen pada dataset DFDC, 95,5 persen pada FaceForensics++, 98,3 persen pada DeepfakeTIMIT, dan 91,6 persen pada Celeb-DF v2.

Secara keseluruhan, rata-rata nilai F1-Score dari empat dataset tersebut mencapai 96,125 persen. Hasil itu menunjukkan bahwa pendekatan hybrid yang dikembangkan mampu mengenali berbagai jenis manipulasi video dengan tingkat generalisasi yang baik.

Penelitian ini juga menghasilkan antarmuka berbasis Gradio untuk memudahkan penggunaan sistem. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mengunggah video, menjalankan proses analisis, serta melihat hasil klasifikasi berupa label real atau fake beserta nilai tingkat keyakinan atau *confidence score*.

Pengembangan aplikasi deteksi *deepfake* menjadi penting di tengah meningkatnya produksi dan penyebaran konten visual berbasis AI. Kemampuan melakukan verifikasi video tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari literasi digital dan perlindungan masyarakat dari informasi palsu.

Riset ini memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya dapat digunakan untuk menghasilkan konten sintetis, tetapi juga dikembangkan sebagai instrumen untuk mengidentifikasi dan mengurangi dampak penyalahgunaan teknologi tersebut.

Keberadaan sistem deteksi berbasis web diharapkan dapat memberikan alat bantu yang lebih praktis bagi masyarakat dan berbagai institusi dalam memeriksa keaslian konten video sebelum mempercayai atau menyebarluaskannya.

Baca Juga:Nadjih Ihsan Ajak Tendik Umsida Hidupkan Tauhid dalam Pekerjaan

Sumber: Artikel “Perancangan Aplikasi Berbasis Web untuk Membedakan Video yang Dihasilkan oleh AI dengan Video Asli Menggunakan Metode Transformer”, *JATI: Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika*, Vol. 10 No. 1, Februari 2026.

Bertita Terkini

Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Prof Hana: Pascasarjana Umsida Tak Hanya Kuatkan Akademik, tetapi Juga Kepercayaan Diri Mahasiswa
September 14, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
15 Mahasiswa S2 MPI Umsida Raih Beasiswa LPPD Jawa Timur 2026, Perkuat Kader Pendidikan Islam
September 1, 2026By
Magister Ilmu Komunikasi UMSIDA dan UMJ Jalin Kerja Sama Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi
August 27, 2026By

Prestasi

Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Paper Terbaik di University Malaya
June 16, 2026By
Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Juara 1 Creativity Competition di Universiti Malaya
June 14, 2026By

Kegiatan

Rapat Dosen Pascasarjana Umsida Perkuat Transformasi Pembelajaran Digital dan Layanan Akademik
September 18, 2026By
Rektor Umsida kepada Maba Pascasarjana: PTN dan PTS Bukan Pembeda, Kesungguhan yang Menentukan Prestasi
September 14, 2026By
Fortama Perdana Pascasarjana Umsida 2026, Bekali 238 Mahasiswa Baru Memulai Perjalanan Magister
September 14, 2026By
Mahasiswa S2 MPI Umsida Penerima Beasiswa Madin 2026 Ikuti Studium Generale Pemprov Jatim
September 12, 2026By
MIST Umsida Laksanakan Audit Mutu Internal untuk Perkuat Budaya Penjaminan Mutu Akademik
September 2, 2026By
Magister Ilmu Komunikasi UMSIDA dan UMJ Jalin Kerja Sama Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi
August 27, 2026By
Lolos Tahap I, Peserta Beasiswa LPPD Jatim Jalani Uji Kitab di Umsida
August 10, 2026By
Antusias Ikuti Seleksi, 28 Peserta Beasiswa LPPD Jatim Lolos Tahap 1
August 5, 2026By