Pascasarjana.umsida.ac.id – Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyelenggarakan International Guest Lecture bertema “The Competence Edge: Mastering Future Skills Through Strategic Excellence” pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Baca Juga: Magister Manajemen Umsida Bahas CSR Islami dan Filantropi

Kegiatan yang digelar secara hybrid di Ruang 704 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 Umsida dan melalui Zoom Meeting ini menghadirkan akademisi serta praktisi dari Indonesia, Korea Selatan, Vietnam, dan Australia. Forum akademik internasional tersebut menjadi ruang penguatan wawasan mahasiswa dalam memahami kompetensi masa depan, keunggulan strategis, serta tantangan sumber daya manusia di tengah perubahan global.
Kegiatan dibuka oleh Prof Dr Ir Hana Catur Wahyuni ST MT IPM, Director of Graduate Programs Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa mahasiswa pascasarjana perlu memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.
“Kompetensi masa depan bukan hanya tentang penguasaan ilmu, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi, berpikir strategis, dan membangun jejaring global,” ujarnya.
Menurutnya, International Guest Lecture menjadi salah satu bentuk komitmen Pascasarjana Umsida dalam menghadirkan pembelajaran yang berorientasi internasional. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar dari dosen internal, tetapi juga memperoleh sudut pandang dari akademisi global dan praktisi industri.
“Kami berharap forum ini dapat memperluas wawasan mahasiswa Magister Manajemen agar mampu membaca perubahan dan mengambil peran strategis di lingkungan kerja masing-masing,” tambahnya.
Human Edge di Tengah Perkembangan AI
Salah satu pemaparan utama disampaikan oleh Assoc Prof Dr Adam Voak dari Vietnam Aviation Academy dan James Cook University, Australia. Ia membahas kompetensi manusia di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) yang semakin cepat.
Dalam paparannya, Adam menjelaskan bahwa AI saat ini tidak hanya membantu pekerjaan teknis, tetapi juga mulai memasuki wilayah pekerjaan kognitif. AI mampu membaca pola, mengolah data, menerjemahkan teks, membantu analisis, hingga menyusun informasi dalam skala besar.
“AI datang dengan sangat cepat. Generative AI mulai memakan pengetahuan, dan agentic AI mulai memakan proses. Ini menjadi tantangan nyata bagi manusia ketika berinteraksi dengan teknologi,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa manusia tetap memiliki ruang penting yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi. Ruang tersebut berkaitan dengan empati, kreativitas, kepercayaan, kemampuan membaca konteks, serta pengambilan keputusan dalam situasi yang tidak pasti.
“AI sangat baik ketika memiliki semua data. Tetapi banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari, perusahaan, dan organisasi justru lahir dari kondisi informasi yang tidak lengkap,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak menerima hasil kerja AI secara mentah. Menurutnya, mahasiswa dan profesional harus memiliki kemampuan mengevaluasi keluaran AI sebelum menggunakannya dalam tulisan, keputusan, atau pekerjaan organisasi.
“Anda harus menilai output AI. Sebelum memasukkan ide ke dunia dan menggunakan AI, tolong nilai terlebih dahulu hasilnya,” pesannya.
Bagi Adam, kompetensi masa depan tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Ia menggambarkan kompetensi seperti gunung es. Pengetahuan berada di bagian atas, sedangkan bagian bawahnya berisi kemampuan dan sikap yang justru sangat menentukan kualitas seseorang.
“Kompetensi bukan hanya pengetahuan. Di bawahnya ada kemampuan dan attitude. Keduanya harus berjalan bersama,” jelasnya.
Strategi Global dan Kebutuhan Industri
Narasumber berikutnya, Prof Ari Warokka PhD MSc MDEM MCEUE DEA dari Tongmyong University, Korea Selatan, memberikan perspektif akademik internasional mengenai keunggulan strategis dalam membangun kompetensi. Ia menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan global.
Menurutnya, mahasiswa Magister Manajemen harus mampu melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk menciptakan nilai baru. Kemampuan membaca arah perubahan, memahami budaya kerja global, dan membangun strategi organisasi menjadi bekal penting bagi calon pemimpin masa depan.
“Daya saing global tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi oleh kemampuan seseorang menciptakan solusi strategis di tengah perubahan,” terangnya.
Dari sisi praktik industri, Krisna Kusnaniswoto SH, HRD Manager PT Interbat sekaligus Ketua Forum Komunikasi Komunitas Industri Sidoarjo, menyoroti kebutuhan nyata dunia kerja. Ia menjelaskan bahwa industri membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga mampu bekerja adaptif, komunikatif, dan produktif.
“Industri membutuhkan SDM yang siap belajar, siap berubah, dan mampu bekerja sama. Kompetensi seperti ini harus dibangun sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan antara kampus dan industri perlu terus diperkuat. Melalui kolaborasi tersebut, perguruan tinggi dapat memahami kebutuhan dunia kerja, sedangkan industri memperoleh sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi tantangan lapangan.
“Ketika kampus dan industri saling terhubung, pembelajaran akan semakin relevan dengan kebutuhan nyata,” tambahnya.
MM Umsida Kuatkan Pembelajaran Berorientasi Masa Depan
Dosen Program Studi Magister Manajemen Umsida, Dr Vera Firdaus SPsi MM, turut memberikan penguatan dari perspektif akademik internal. Ia mengaitkan tema future skills dengan proses pembelajaran di Magister Manajemen Umsida.
Menurutnya, mahasiswa magister perlu dibiasakan untuk berpikir analitis, strategis, dan reflektif. Pembelajaran manajemen tidak cukup hanya membahas teori, tetapi juga harus mampu menghubungkan konsep akademik dengan persoalan organisasi, industri, dan masyarakat.
“Mahasiswa Magister Manajemen harus mampu mengembangkan kepemimpinan, inovasi, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan berbasis data,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan International Guest Lecture menjadi bagian dari upaya prodi dalam memperkuat kualitas akademik dan jejaring internasional.
“Kegiatan seperti ini penting karena mahasiswa mendapatkan perspektif yang lebih luas. Mereka bisa memahami bagaimana isu manajemen, teknologi, dan sumber daya manusia dibaca dari berbagai negara dan sektor,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa, dosen, serta peserta umum menunjukkan antusiasme dengan mengajukan pertanyaan mengenai tantangan kompetensi di dunia kerja, strategi membangun organisasi adaptif, serta peluang kolaborasi internasional.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Manajemen Umsida menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran pascasarjana yang relevan dengan kebutuhan global. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari akademisi internasional dan praktisi industri, tetapi juga didorong untuk membangun pola pikir strategis, keterampilan kolaboratif, dan kompetensi masa depan.
Baca Juga: Kuatkan Kualitas Akademik, Dosen Umsida Ikuti Konferensi AI dan Big Data 2026
Program Studi Magister Manajemen Umsida berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sebagai wadah pertukaran ilmu pengetahuan, penguatan jejaring internasional, dan peningkatan kualitas lulusan yang adaptif serta berdaya saing global.
Penulis: Farih dan Wafi












