Pasca.umsida.ac.id – Jabatan tinggi tidak selalu menjamin seseorang memiliki pengaruh besar dalam organisasi.
Baca Juga: Umsida dan Pemerintah Provinsi Loei Thailand Perpanjang MoU dan 8 MoA
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, perusahaan dan lembaga tidak cukup hanya mengandalkan struktur formal, teknologi, atau modal besar.
Organisasi juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan, membuka ruang kolaborasi, dan memperhatikan manusia di dalamnya.
Isu tersebut menjadi perhatian sejumlah mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (MM Umsida), yakni Arifatus Zulha Aisjah, Heru Susanto, Farih Ayu MSU, Mukhoirotin Siroju, dan Umma Rosyihin.
para mahasiswa ini menyoroti pentingnya perubahan pola kepemimpinan dari organisasi berbasis kekuasaan menuju Blue Leadership, yaitu kepemimpinan yang menempatkan manusia, kepercayaan, dan kolaborasi sebagai pusat organisasi.
Jabatan Formal Tidak Lagi Cukup
Salah satu penulis, Arifatus Zulha Aisjah, menjelaskan bahwa banyak organisasi hari ini masih terjebak pada cara berpikir lama. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula pengaruh yang dianggap dimilikinya. Padahal, dalam praktiknya, pengaruh tidak selalu lahir dari posisi struktural.
“Di era sekarang, jabatan memang tetap penting, tetapi tidak cukup untuk membuat seseorang benar-benar berpengaruh. Pengaruh justru muncul ketika pemimpin mampu membangun kepercayaan dan membuat orang lain merasa dilibatkan,” ujarnya.
Menurutnya, organisasi yang hanya mengandalkan kekuasaan formal berisiko kehilangan kreativitas dari anggota tim. Karyawan atau anggota organisasi hanya menjadi pelaksana instruksi, bukan bagian dari proses berpikir dan pengambilan keputusan.
Kondisi ini dapat berdampak serius. Ide inovatif tidak muncul, keputusan menjadi lambat, konflik antar divisi meningkat, hingga talenta muda memilih keluar karena merasa tidak memiliki ruang berkembang.
Organisasi Perlu Berani Membuka Ruang Kolaborasi
Heru Susanto, menilai bahwa tantangan utama organisasi modern bukan hanya soal teknologi, melainkan budaya kerja. Menurutnya, organisasi yang terlalu sentralistik akan kesulitan mengikuti perubahan pasar dan kebutuhan masyarakat.
“Kalau semua keputusan harus menunggu pimpinan tertinggi, organisasi akan lambat bergerak. Padahal, tantangan hari ini membutuhkan respons cepat dan kemampuan bekerja secara kolaboratif,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemimpin tidak seharusnya selalu memposisikan diri sebagai satu-satunya pusat keputusan. Dalam banyak situasi, anggota tim yang berada di lapangan justru lebih memahami persoalan teknis dan kebutuhan nyata organisasi.
Karena itu, Blue Leadership mendorong pemimpin untuk berperan sebagai fasilitator dan mentor. Pemimpin tetap menjaga arah organisasi, tetapi juga memberi kepercayaan kepada tim untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan gagasan.
Model kepemimpinan ini menjadi penting karena sumber kekuasaan dalam organisasi telah bergeser. Jika dahulu pengaruh banyak ditentukan oleh jabatan formal, kini pengaruh juga lahir dari kompetensi, kreativitas, kemampuan membaca data, dan jaringan kerja.
Blue Leadership Relevan untuk Banyak Lembaga
Sementara itu, Farih Ayu MSU menegaskan bahwa Blue Leadership tidak hanya relevan bagi perusahaan. Konsep ini juga dapat diterapkan di perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, hingga organisasi sosial.
“Blue Leadership bukan berarti organisasi menjadi bebas tanpa arah. Justru kepemimpinan ini menuntut pemimpin lebih matang dalam mengelola kekuasaan, menjaga kinerja, sekaligus tetap memperhatikan sisi kemanusiaan,” ungkapnya.
Menurutnya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menjaga keseimbangan antara target dan kesejahteraan anggotanya. Kinerja tinggi memang penting, tetapi tidak boleh dicapai dengan mengabaikan kesehatan mental, kenyamanan kerja, dan ruang partisipasi.
Dalam konteks lembaga pendidikan, misalnya, dosen muda, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan sering memiliki ide inovatif. Namun, ide tersebut dapat terhambat jika sistem organisasi terlalu birokratis dan tertutup.
Dengan pendekatan Blue Leadership, keputusan dapat dibuat lebih partisipatif. Kolaborasi penelitian, inovasi pembelajaran, dan pengembangan organisasi juga berpeluang tumbuh lebih cepat.
Pada akhirnya, tantangan organisasi masa kini bukan hanya bagaimana mencapai target, tetapi bagaimana membangun budaya kerja yang mampu bertahan dalam perubahan.
Organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang hanya memiliki banyak jabatan, melainkan organisasi yang mampu mengubah kekuasaan menjadi kepercayaan.
Baca Juga: Mahasiswa S2 Dikdas Umsida Raih Juara 1 Creativity Competition di Universiti Malaya
Dari kepercayaan itulah muncul energi kolektif untuk beradaptasi, berinovasi, dan berkembang secara berkelanjutan.
Penulis: Arifatus Zulha Aisjah, Heru Susanto, Farih Ayu MSU, Mukhoirotin Siroju, dan Umma Rosyihin, mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Editor: Akhmad Hasbul Wafi












