Pasca.umsida.ac.id – Semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Hal tersebut dibuktikan Eliwis Maladani, lulusan Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,84.
Eliwis berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya dalam waktu 1 tahun 10 bulan. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan meraih prestasi akademik.
Bagi Eliwis, keberhasilannya bukan sekadar memperoleh gelar magister atau predikat wisudawan terbaik. Lebih dari itu, pendidikan merupakan kesempatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kembali ke Almamater, Eliwis Pilih Umsida untuk Melanjutkan Pendidikan
Keputusan Eliwis melanjutkan pendidikan magister di Umsida memiliki cerita tersendiri. Ia mengaku telah mengenal lingkungan kampus tersebut sejak mengikuti pendidikan Akta IV sekitar tahun 2011.
Pengalaman itu meninggalkan kesan positif yang membuatnya kembali memilih Umsida sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
“Saya ingin melanjutkan studi di tempat yang nyaman dan sudah pernah saya kenal,” ungkapnya.
Eliwis yang berdomisili di Bangil, Pasuruan, menjalani perkuliahan dengan datang ke kampus setiap Jumat dan Sabtu. Kesempatan melanjutkan pendidikan tersebut juga diperolehnya melalui program beasiswa Madin.
Ia mengaku sempat mencoba mendaftar beasiswa di perguruan tinggi tempatnya menempuh pendidikan sarjana. Namun, setelah dua kali mencoba dan belum berhasil, Eliwis akhirnya memperoleh kesempatan melalui Umsida.
“Alhamdulillah, pada pendaftaran ketiga saya mencoba di Umsida dan mendapatkan beasiswa Madin,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan Umsida dari waktu ke waktu juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Ia menyaksikan perubahan fasilitas dan lingkungan kampus yang semakin berkembang dibandingkan ketika pertama kali menempuh pendidikan di sana.
Bersaing dengan Mahasiswa Muda Jadi Motivasi Meraih Prestasi
Selama menempuh pendidikan magister, Eliwis menghadapi tantangan tersendiri. Salah satunya adalah perbedaan usia dengan sebagian besar mahasiswa di kelasnya.
Ia menceritakan bahwa kelasnya terdiri atas sekitar 40 mahasiswa dengan latar belakang usia dan profesi yang beragam. Sebagian besar teman sekelasnya merupakan generasi yang lebih muda.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk menunjukkan bahwa semangat belajar tidak harus berkurang seiring bertambahnya usia.
“Karena usia saya sudah tidak lagi muda, saya ingin terus menggali cita-cita. Saya harus bersaing dengan mereka. Jangan sampai yang tua kalah dengan yang muda,” ujarnya.
Baginya, keberadaan mahasiswa muda memberikan dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan akademik dan menjaga semangat selama perkuliahan.
Tidak hanya persaingan akademik, Eliwis juga memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang pekerjaan.
Ia mengungkapkan bahwa teman-teman sekelasnya berasal dari beragam instansi, termasuk lingkungan pemerintahan dan organisasi Muhammadiyah.
Keberagaman tersebut menciptakan suasana pembelajaran yang terbuka dan kolaboratif.
“Kami saling berbagi ilmu dan pengalaman. Apa yang baik dari teman-teman kami ambil, dan apa yang mereka butuhkan juga kami bagikan,” jelasnya.
Menurut Eliwis, hubungan antarmahasiswa menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menjalani pendidikan di Pascasarjana Umsida.
Dukungan Dosen dan Teman Jadi Bagian Penting Keberhasilan
Keberhasilan Eliwis meraih predikat wisudawan terbaik tidak terlepas dari dukungan lingkungan akademik yang mendampinginya selama perkuliahan.
Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para dosen serta mahasiswa yang telah memberikan bantuan dan motivasi.
Eliwis menilai hubungan yang baik antara dosen dan mahasiswa turut memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian akademiknya.
“Saya tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan mereka. Saya juga tidak mungkin menjadi mahasiswa terbaik tanpa dukungan teman-teman dan dosen yang telah mengajar saya,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi sikap para dosen yang dinilainya rendah hati dan terbuka dalam mendampingi mahasiswa selama proses pembelajaran.
Bagi Eliwis, keberhasilan akademik bukan hanya hasil usaha individu, melainkan juga terbentuk melalui lingkungan pendidikan yang mendukung kerja sama dan pertukaran pengetahuan.
Ingin Lanjut S3, Eliwis Berharap Umsida Membuka Program Doktoral
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan magister, Eliwis tidak ingin berhenti mengembangkan kemampuan akademiknya.
Ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral atau S3. Bahkan, dirinya berharap suatu saat dapat kembali menjadi mahasiswa Umsida apabila tersedia program doktoral yang sesuai.
“Saya sangat berharap Umsida membuka program doktoral agar kami sebagai alumni bisa melanjutkan pendidikan S3 di Umsida,” katanya.
Keinginan tersebut tidak hanya muncul dari dirinya sendiri. Menurut Eliwis, sejumlah rekannya juga memiliki harapan serupa untuk dapat kembali melanjutkan pendidikan di almamater mereka.
Meski demikian, Eliwis menegaskan bahwa tujuan terpenting setelah menyelesaikan pendidikan adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Ia ingin pengetahuan di bidang Manajemen Pendidikan Islam dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan.
“Jangan hanya membawa gelar magister atau predikat wisudawan terbaik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang telah kita dapatkan selama kuliah bisa diamalkan,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai akademik maupun gelar yang diperoleh, tetapi juga melalui kontribusi dan manfaat ilmu bagi orang lain.
Pesan untuk Mahasiswa Pascasarjana: Niat Harus Setebal Balok Kayu
Menutup kisah perjalanannya, Eliwis memberikan pesan kepada mahasiswa Pascasarjana Umsida agar terus menjaga semangat dalam menyelesaikan pendidikan.
Ia menekankan bahwa niat yang kuat menjadi fondasi utama untuk menghadapi berbagai tantangan selama perkuliahan.
“Niatnya tidak boleh setipis tisu, tetapi harus setebal balok kayu,” pesannya.
Ungkapan tersebut menjadi gambaran tentang pentingnya tekad dan konsistensi dalam mengejar tujuan pendidikan.
Eliwis mengingatkan bahwa motivasi belajar harus terus diperbarui dari dalam diri sendiri. Tanpa kemauan yang kuat, mahasiswa akan lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Harus selalu semangat dan terus meningkatkan motivasi dari diri sendiri. Karena kalau niatnya tidak kuat, akan sulit untuk berhasil sampai titik kelulusan,” pungkasnya.
Kisah Eliwis Maladani menjadi pengingat bahwa kesempatan meraih pendidikan tinggi tetap terbuka bagi siapa saja. Dengan tekad, dukungan lingkungan akademik, dan kemauan untuk terus belajar, usia bukan menjadi batas untuk meraih prestasi.














