Pasca.umsida.ac.id – Gelar akademik bukan sekadar pengakuan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi, melainkan juga membawa tanggung jawab intelektual dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam orasi ilmiah yang disampaikan Dr Kumara Adji Kusuma SFilI CIFP pada kegiatan Yudisium II Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga: Prof Hana: Gelar Magister Harus Memberikan Dampak Positif bagi Masyarakat
Kegiatan yang berlangsung di Aula Mas Manshur, GKB 2 lantai 7 Kampus 1 Umsida tersebut diikuti 34 mahasiswa dari Program Studi Magister Manajemen dan Magister Manajemen Pendidikan Islam.
Melalui orasinya, Akademisi Umsida ini mengajak para lulusan merefleksikan makna pendidikan tinggi, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi, tuntutan profesionalisme, dan tanggung jawab sosial.
Gelar Magister Harus Mengubah Cara Berpikir
Dalam orasinya, Dr Kumara Aji mengawali refleksi dengan mengajak para lulusan mempertanyakan perubahan yang seharusnya terjadi setelah memperoleh gelar akademik.
Menurutnya, pendidikan magister tidak cukup hanya menghasilkan individu yang menguasai pengetahuan, tetapi juga harus membentuk kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Pemahaman membantu kita melihat konteks serta hubungan yang membuat sesuatu yang berarti,” ungkapnya.
Ia menjelaskan pentingnya membedakan informasi, pengetahuan, pemahaman, dan pertimbangan dalam menghadapi persoalan nyata.
Kemampuan akademik, menurutnya, perlu diwujudkan melalui proses berpikir yang sistematis, mulai dari pengamatan, identifikasi persoalan, analisis, hingga penyusunan solusi berdasarkan bukti.
Dengan demikian, lulusan magister diharapkan tidak hanya mampu menjawab persoalan, tetapi juga memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Tantangan Kecerdasan Buatan dan Etika Penggunaan Ilmu
Lebih lanjut, Dr Kumara Aji menyoroti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin mempermudah manusia mengakses informasi.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait ketepatan informasi, tanggung jawab penggunaan teknologi, dan kemampuan manusia dalam memahami hasil yang dihasilkan sistem digital.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus tetap disertai kemampuan memeriksa sumber informasi, melindungi data, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
“Data membantu kita memperbaiki kenyataan, bukan sekadar memperindah gambaran tentang kenyataan,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan suatu program atau kebijakan tidak semestinya hanya dinilai melalui angka dan indikator, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia.
Karena itu, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab membangun kepekaan etis agar kemajuan teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ilmu Pengetahuan sebagai Amanah bagi Masyarakat
Pada bagian lain orasinya, Dr Kumara Aji Kusuma mengingatkan pentingnya memandang ilmu pengetahuan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Ia menekankan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membantu masyarakat memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan.
“Semakin banyak yang kita ketahui, seharusnya semakin besar kemampuan kita membantu orang lain memahami,” pesannya.
Menurutnya, profesionalisme tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga keberanian mengambil keputusan yang tepat, menjunjung keadilan, dan mempertimbangkan kepentingan pihak yang terdampak.
Melalui orasi ilmiah tersebut, para lulusan Pascasarjana Umsida diharapkan mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan dalam bekerja, memimpin, dan mengabdi kepada masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswi Umsida Kenalkan Budaya Indonesia ke Anak Pekerja Indonesia di Malaysia
Pesan ini sejalan dengan tema Yudisium II, yakni “Transformasi Keilmuan Menuju Profesionalisme dan Keunggulan Berkelanjutan,” yang menekankan pentingnya mengubah capaian akademik menjadi kontribusi nyata.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi















